Merajut Damai di Tengah Dunia yang Terluka: Belajar dari Bhinneka Tunggal Ika
Badan Kesatuan Bangsa Dan Politik
Tim Publikasi Informasi Publik
"Di tengah dunia yang tengah bergejolak oleh perang dan perpecahan, Indonesia berdiri sebagai negeri yang patut disyukuri. Bukan karena tak ada perbedaan, justru sebaliknya — ratusan suku, bahasa, dan agama hidup berdampingan, dirajut oleh satu semboyan: Bhinneka Tunggal Ika. Karena perdamaian dunia yang besar, dimulai dari perdamaian kecil di antara sesama anak bangsa."
Hari ini, 21 September, dunia memperingati Hari Perdamaian Dunia, sebuah momen yang seharusnya menjadi jeda sejenak dari hiruk-pikuk konflik, namun justru datang di tengah dunia yang tengah bergejolak. Di berbagai belahan bumi, dentuman senjata masih terdengar. Anak-anak kehilangan rumah, keluarga tercerai-berai, dan kemanusiaan diuji oleh ambisi kekuasaan, perebutan wilayah, serta luka sejarah yang tak kunjung sembuh. Perang bukan hanya menghancurkan bangunan, tetapi juga meruntuhkan kepercayaan antarmanusia yang dibangun selama bertahun-tahun.
Di tengah gejolak itu, Indonesia berdiri sebagai negeri yang patut disyukuri. Bukan karena kita tidak memiliki perbedaan justru sebaliknya. Indonesia adalah rumah bagi ratusan suku bangsa, ratusan bahasa daerah, beragam agama dan kepercayaan, serta ribuan pulau dengan corak budaya yang berbeda-beda. Perbedaan sebesar ini, di banyak tempat di dunia, justru menjadi bahan bakar konflik. Namun di Indonesia, perbedaan itu justru dirajut menjadi kekuatan melalui semboyan yang telah teruji sejak lama: Bhinneka Tunggal Ika berbeda-beda tetapi tetap satu.
Toleransi bukanlah sekadar slogan yang diajarkan di bangku sekolah, melainkan praktik hidup sehari-hari. Ia terlihat ketika tetangga yang berbeda agama saling membantu menyiapkan perayaan hari besar masing-masing. Ia hadir ketika suku Jawa, Batak, Bugis, Dayak, Minang, Papua, Tionghoa, dan ratusan suku lainnya duduk bersama sebagai satu bangsa, tanpa harus melebur identitas masing-masing. Ia terjaga ketika perbedaan pilihan politik atau pandangan tidak lantas mengubah tetangga menjadi musuh.
Justru karena kita tahu betapa rentannya kerukunan itu bila tidak dijaga, kita harus semakin waspada. Konflik di dunia sering kali bermula dari hal kecil yang dibiarkan membesar: kecurigaan yang tidak diluruskan, ujaran kebencian yang dibiarkan menyebar, prasangka antarkelompok yang tidak pernah didialogkan. Sejarah bangsa lain yang kini bergolak seharusnya menjadi cermin bagi kita, bukan untuk ditiru, melainkan untuk dihindari. Perdamaian yang kita nikmati hari ini bukanlah sesuatu yang otomatis abadi ia adalah hasil rawatan yang harus terus diperjuangkan oleh setiap generasi.
Di Hari Perdamaian Dunia ini, mari kita jadikan keberagaman Indonesia bukan sebagai potensi perpecahan, melainkan sebagai bukti nyata bahwa perbedaan dan perdamaian bisa berjalan beriringan. Mari kita jaga toleransi antarsuku dan budaya sebagai benteng pertama bangsa ini dari benih-benih konflik. Karena pada akhirnya, perdamaian dunia yang besar dimulai dari perdamaian kecil di lingkungan kita sendiri — di antara tetangga, di antara sesama warga, di antara anak bangsa yang berbeda suku namun satu tanah air.
Selamat Hari Perdamaian Dunia. Semoga Indonesia terus menjadi teladan bahwa persatuan dalam keberagaman bukanlah mimpi, melainkan kenyataan yang bisa terus kita rawat bersama.